Menyusuri Detik Kehidupan Bersama Indra KH



Kehujanan, Makanan Berlemak dan Air Putih

0 comments

"Kejelian dalam memilih makanan juga ternyata menjadi faktor penting jika kita ingin menghindari radang tenggorokan. Bila kita lebih gemar menyantap makanan berminyak dan berlemak ketimbang sayuran atau buah-buahan, maka jangan salahkan bila suatu saat sakit menelan akan menghampiri"


Sudah dua pekan saya tidak mengupdate blog ini lagi. Hal itu karena kesehatan yang kurang mendukung. Demam dan radang tenggorokan yang dialami membuat saya tidak bisa ngantor hampir sepekan. Kehujanan, terlalu banyak melahap makanan berminyak dan berlemak, ditambah kurang minum air putih adalah pemicunya (Dua alasan terakhir adalah pendapat dokter yang memeriksa saya).



Photobucket - Video and Image Hosting




Hujan deras yang turun hampir setiap hari belakangan ini memang sulit dihindari. Apalagi bagi orang seperti saya yang memilih menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi. Kehujanan sekali dua kali mungkin tidak terlalu berpengaruh, namun bila keseringan diguyur hujan lambat laun daya tahan tubuh ini rontok juga.

Kejelian dalam memilih makanan juga ternyata menjadi faktor penting jika kita ingin menghindari radang tenggorokan. Bila kita lebih gemar menyantap makanan berminyak dan berlemak ketimbang sayuran atau buah-buahan, maka jangan salahkan bila suatu saat sakit menelan akan menghampiri.

Dipikir-pikir, satu bulan belakangan ini menu makanan saya – terutama di luar rumah – memang kacau balau. Acara makan di luar bersama rekan-rekan kerja yang lebih mirip wisata kuliner memang belum bisa saya imbangi dengan menyantap sayuran dan buah-buahan. Sate, steak, kebab, mie, dan makanan penuh lemak lainnya lebih sering saya makan belakangan ini.



Photobucket - Video and Image Hosting



Tentang minuman ada benarnya juga. Belakangan saya lebih sering memilih air berwarna ketimbang air putih. Kopi, teh manis kemasan botol, minuman bersoda, dan minuman dalam kemasan lainnya yang kerap saya konsumsi boleh jadi menjadi pemicu yang tak bisa dianggap enteng.

Alhamdulillah kesehatan saya kini telah berangsur pulih, semoga bisa lebih teratur lagi membuat postingan di blog ini maupun blog saya yang lain. Aamiin.

Labels:


Televisi Saya Rusak (Lagi)

0 comments

"Untuk televisi yang kedua ini sebenarnya masalah awalnya sama persis dengan yang pertama, yakni kerap berpindah-pindah frekuensi. Sebelumnya memang tidak bermasalah, namun Televisi merk JVC ini entah mengapa mengikuti jejak televisi yang pertama. Suara dari tayangan televisi memang tetap keluar namun gambarnya amburadul"


Seperti hari-hari sebelumnya, pada hari Kamis (25/1) pagi saya berniat untuk menonton news di televisi. Namun ketika televisi saya nyalakan betapa kagetnya karena yang tampil di layar hanyalah gambar yang tidak jelas. Gambar tayangan acara televisi hanya tampak sebagian kecil saja dan berwarna kombinasi merah tua dan coklat. Televisi saya rusak lagi !!

“Waduuhh,……ini kejadian yang keduakalinya,” keluh saya dalam hati. Yaa, ini adalah televisi kedua yang rusak dalam kurun 1,5 tahun. Padahal keduanya baru. Sekitar 8 bulan lalu televisi merk Sharp di rumah mengalami masalah kerap berpindah-pindah frekuensi. Jika kita baru menyalakannya jangan berharap sebuah channel bisa kita tonton secara utuh. Pasalnya ia akan terus berpindah-pindah frekuensi. Setelah lama barulah televisi yang satu ini bisa tetap pada salurannya, walaupun berpindah lagi namun intensitasnya tidak sesering saat kita baru menyalakannya.

Akhirnya karena kesal dengan kondisi televisi seperti itu, keluarga kami pun sepakat untuk memperbaikinya. Beruntung ada kerabat yang bisa menangani hal ini. Kini televisi Sharp ini tidak tetap dibiarkan disimpan di rumahnya. Usut punya usut ternyata menurut pengakuannya ia tidak memperbaiki sedikit pun. Dia hanya membersihkan debu-debu di bagian dalamnya saja. Hingga kini televisi yang itu tetap ”sehat” dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Untuk televisi yang kedua ini sebenarnya masalah awalnya sama persis dengan yang pertama, yakni kerap berpindah-pindah frekuensi. Sebelumnya memang tidak bermasalah, namun Televisi merk JVC ini entah mengapa mengikuti jejak televisi yang pertama. Suara dari tayangan televisi memang tetap keluar namun gambarnya amburadul.

Hingga kini saya masih belum tahu penyebab kenapa keduanya bisa menghadapi masalah yang sama. Apakah pengaruh booster ? Atau kondisi geografis tempat tinggal saya yang memang berada di lembah daerah Bandung Utara ? Entahlah. Yang pasti kini saya akan ketinggalan headline news yang biasanya saya dapat dari berita pagi di televisi. Saya juga akan kehilangan kesempatan menonton sepakbola liga Inggris di akhir pekan.

Ughh, apakah harus membeli televisi yang baru ? Non budgeter dong !! Belum lagi kalau ternyata kondisinya akan bernasib sama dengan pendahulunya, bisa berabe kalau begitu. Apakah diantara Anda ada yang mengalami pengalaman yang sama ?

Labels:


Hidup di Gedung Tinggi

3 comments

..Saya merasa lebih kerasan tinggal di pemukiman biasa, yang kental dengan persaudaraannya. Saya lebih membutuhkan tetangga yang siap membantu ketika kita kesulitan. Saya lebih merindukan sapaan ramah orang-orang yang melewati rumah kita...


Kian minimnya lahan kosong untuk perumahan membuat pengembang pemukiman kini melebarkan lahannya secara vertikal. Di kota-kota besar bangunan apartemen mulai bermunculan. Para pengelolanya menawarkan berbagai fasilitas menggiurkan dengan beraneka konsep pembayaran. Dulu saya sering bertanya-tanya ”Apa sih bedanya tinggal di apartemen dibandingkan pemukiman biasa”? Apa enaknya dan apa nggak enaknya ? Dan kini saya sudah menemukan jawabannya.

Sekira tiga bulan lalu, sebuah kamar apartemen di kawasan Slipi, Jakarta menjadi tempat singgah atau menginap bagi saya dan rekan-rekan jika ada perjalanan dinas di sana.


Photobucket - Video and Image Hosting


Dari sisi keamanan, secara sepintas apartemen mengaplikasikan tingkat keamanan lebih dibanding perumahan biasa. Diantaranya, penjagaan satpam di pintu masuk dan lokasi strategis, CCTV yang bisa dimonitor penghuni via televisi, dan akses lift dengan RFID. Memang bila dibandingkan dengan perumahan-perumahan atau cluster elit, konsep ini tidak terlalu jauh berbeda.

Dari sisi fasilitas, apartemen juga menawarkan konsep one stop service. Adanya akses internet, tv kabel, minimarket, cafe dan restoran, laundry, kolam renang dan pusat kebugaran didesain pengelola apartemen untuk memudahkan penghuni agar mereka tidak perlu keluar area untuk memenuhi kebutuhannya. Konsep seperti ini pun saya pikir tidak berbeda jauh dengan yang telah diaplikasikan kota-kota baru atau kota satelit di pinggiran kota besar, seperti BSD, Lippo Karawaci, atau Kota Baru Parahyangan.

Hidup di apartemen memang mengasyikan, namun entah mengapa saya merasa ada yang hilang dari kehidupan seperti itu, yakni kekeluargaan dan kehidupan sosial. Kehidupan di gedung tinggi menurut pengamatan saya cenderung individualistik elitis. Bertemu dengan tetangga sebelah kamar pun mereka enggan menyapa. Menggunakan space parkir orang lain tidak pernah merasa bersalah, cuek saja. Ketika kepergok si empunya juga jangankan hadir kata maaf dari lisannya, sapaan sedikit saja tidak keluar dari mulutnya.

Saya merasa lebih kerasan tinggal di pemukiman biasa, yang kental dengan persaudaraannya. Saya lebih membutuhkan tetangga yang siap membantu ketika kita kesulitan. Saya lebih merindukan sapaan ramah orang-orang yang melewati rumah kita. Saya merasa lebih nyaman melihat pemandangan pekarangan rumah yang hijau diisi tanaman dan apotek hidup ketimbang pemandangan jalanan ibukota yang sarat kemacetan dari balik jendela apartemen.

Di apartemen tidak ada lagi pedagang keliling yang menjajakan dagangannya. Di apartemen saya tidak menyaksikan ibu-ibu rumah tangga maupun para pembantu mengerumuni tukang sayur untuk bahan memasak di hari itu. Di apartemen juga saya tidak menyaksikan pertandingan sepakbola, tenis meja atau bola voli antar kampung. Di apartemen juga saya tidak melihat lalu-lalang anak-anak kecil yang asyik bermain petak umpet dan saling kejar-kejaran. Dia apartemen juga saya tidak melihat rombongan orang maupun bocah-bocah yang bergegas menuju masjid atau pun surau untuk shalat berjamaah seusai adzan berkumandang.

***
Puihhh, lelah juga membanding-bandingkan hal seperti ini. Hidup di gedung tinggi (apartemen) ternyata ada enaknya dan juga ada tidak enaknya. Kalau Anda lebih kerasan tinggal di mana ?

Labels:


Musim Undangan Telah Tiba

2 comments

Satu hal yang kian memperparah kemacetan adalah banyaknya lokasi undangan yang menggunakan sebagian badan jalan untuk tempat kursi tamu undangan dan panggung hiburan dangdut maupun kesenian daerah


Bulan Januari 2007 tampaknya tak hanya identik dengan musim hujan dan musim bencana, namun juga musim undangan, baik itu undangan pernikahan maupun khitanan. Pada hari Sabtu (6/1) dan Minggu (7/1) kemarin misalnya, saya harus menghadiri sedikitnya 4 undangan, yang terdiri dari 3 undangan pernikahan dan 1 undangan syukuran khitanan.

Penilaian saya semakin menguat karena selama perjalanan menuju lokasi undangan–undangan tersebut saya menyaksikan banyak masyarakat yang menggunakan batik dan pakaian adat.

Janur kuning pun begitu marak dipasang di muka gang atau jalan maupun pintu masuk gedung-gedung yang kerap digunakan sebagai tempat resepsi. Di sepanjang Jl. Rajawali Barat yang sempat dilewati, saya iseng-iseng menghitung janur yang dipasang. Hasilnya ada 8 janur.

Salah seorang kerabat saya yang sempat melewati ruas Cibiru hingga Setiabudhi pada hari yang sama menuturkan hal serupa.”Awalnya anak saya menghitung ada 10 janur, namun saking banyaknya jadi malas menghitung, mungkin ada sekitar 30 undangan” katanya.

Waah, banyak juga yaa !! Jadi ada berapa undangan di kota Bandung saat itu ?? Pantas saja akhir pekan kemarin Bandung terasa lebih macet. Mungkin kali ini bukan hanya akibat kunjungan warga Jakarta yang berburu pakaian di factory outlet saja, namun juga akibat warga Bandung sendiri yang tumplek blek menghadiri berbagai hajatan yang digelar.

Satu hal yang kian memperparah kemacetan adalah banyaknya lokasi undangan yang menggunakan sebagian badan jalan untuk tempat kursi tamu undangan dan panggung hiburan dangdut maupun kesenian daerah. Akibatnya lebar jalan yang digunakan para pengendara menjadi sempit.

Pekan depan, 2 undangan dipastikan sudah menanti. Sepertinya keluarga saya bulan ini harus menyiapkan anggaran non budgeter lebih banyak:-D. Apakah anda juga seperti itu ??

Labels:


Perjalanan Subuh Yang Melelahkan

3 comments

Sudah lama saya tidak pernah berangkat ke Jakarta lagi di waktu subuh. Sejak kehadiran Tol Cipularang, bila ada perjalanan dinas ke Jakarta saya kerap pergi dari Bandung pada pagi hari bila ada agenda pertemuan sebelum dhuhur.

Pertimbangan lain adalah saya sangat jarang pergi ke Jakarta pada hari Senin, lebih sering hari Selasa atau Kamis, sehingga peluang terjebak kemacetan total di ruas tol Cikampek atau tol dalam kota relatif bisa dihindari.

Namun Senin (27/11) ini, saya harus berangkat dari rumah menuju kantor sebelum adzan Subuh, karena ada agenda meeting di Jakarta pagi hari. Selain itu karena perjalanannya dilakukan pada hari Senin kami khawatir akan terjebak kemacetan panjang dari mulai pintu tol Pondok Gede.

***
Sebenarnya saya memiliki rencana untuk berangkat ke kantor pada pukul 04.00 WIB. Namun hujan yang mengguyur kota Bandung sejak pukul 03.00 WIB membuat saya menunda keberangkatan sejenak.

Tetapi hingga pukul 04.20 WIB hujan ternyata belum juga reda, bahkan cenderung semakin deras. Karena khawatir terlambat, akhirnya saya nekad juga untuk berangkat menuju kantor menggunakan sepeda motor lengkap dengan perlengkapan hujan.

Prediksi awal, baju yang saya kenakan itu tidak akan basah karena terlindung raincoat. Namun ternyata perkiraan saya tersebut meleset, karena hujan turun sangat deras sehingga air menembus hingga ke pakaian.

Hal lain yang diluar dugaan adalah terjadi genangan banjir yang cukup tinggi di beberapa tempat yang dilalui. Bahkan saya sangat kaget ketika sebuah minibus tiba-tiba menyalip sepeda motor yang saya kendarai dengan kecepatan tinggi di kawasan Lebak Siliwangi. Padahal saat itu saya tengah memperlambat kecepatan kendaraan karena banjir dan menghindari berbagai sampah jalanan yang berceceran karena terbawa aliran air. Akibat ulah pengemudi minibus itu, genangan banjir menjadi meluap ke atas badan saya, dan membasahi seluruh pakaian.

Karena tidak bawa baju ganti versi resmi, akhirnya terpaksa saya balik lagi ke rumah untuk membawa baju ganti. Stress juga saat itu, karena saya pikir pasti sudah ditunggu Roisz, Pak Andika dan juga Pak Budi di kantor untuk segera berangkat.

Akhirnya setelah bawa baju ganti dan cek ricek kembali saya pun memacu kembali sepeda motor dengan kecepatan tinggi sampai nyaris menabrak Toyota Avanza yang mogok di depan pasar Suci karena licin saat akan mengerem kendaraan.

Beruntung bisa sampai di kantor sekitar pukul 04.50 WIB dan belum terlambat, karena saat itu Roisz masih memanaskan mobil. Setelah siap semua, kami pun kemudian berangkat menuju Jakarta. Puihh....benar-benar perjalanan Subuh yang melelahkan, namun Alhamdulillah agenda kerja berjalan lancar.

Labels:


Aah, si Dia Datang Lagi

1 comments

Photobucket - Video and Image Hosting
Semegah ataupun semewah apapun rumah anda, bila hewan ini telah berkunjung ke tempat anda, saya jamin akan banyak menyita ketenangan dan kenyamanan. Apalagi bila kediaman kita tak seluas rumah orang-orang kaya di permata hijau atau setraduta, alias segitu-gitunya, pasti gangguan si dia ini kian terasa menyempitkan kediaman kita.

Sudah tiga hari dia menampakan diri lagi di rumah saya, setelah cukup lama tidak muncul. Tikus got seukuran marmut itu muncul lagi di sekitar ruangan dapur dan kamar mandi. Saat malam datang, tak jarang si monyong ini mengganggu lelap tidur kita akibat ulahnya menjatuhkan barang-barang di dapur.

Yang membuat bertambah jengkel adalah aksinya dalam membongkar tempat sampah, bahan makanan maupun wadah bumbu. Di pagi hari, sisa-sisa penjarahannya membuat kotor lantai dapur. Belum lagi penjelajahannya di atas rak piring yang kerap kita pergoki saat akan ke dapur atau kamar mandi kamar mandi. Ulahnya itu menambah pekerjaan kita untuk mencuci ulang dengan air panas terhadap barang yang akan kita gunakan, karena khawatir jejaknya membawa penyakit.

Setelah usaha menaklukannya dengan perangkap tikus beberapa waktu lalu kerap berbuah kegagalan, kemarin akhirnya saya putuskan untuk mencoba lem tikus. Di atas karton yang telah dibubuhi lem tikus itu saya taburkan sedikit terasi dan nasi untuk daya tarik. Semoga saja usaha ini berhasil.

Benar saja, pagi keesokan harinya seekor tikus terperangkap di atas lem itu. Tapi kenapa yang tertangkap ini tikus yang berbeda ??? Tikus yang ini lebih kecil dan bukan hewan target operasi saya ?? Rupanya dia tak hanya satu, namun ada juga temannya.

Hingga tadi tikus got sebesar marmut itu belum juga tertangkap, entah kapan operasi ini berakhir. Kalau dipikir kenapa yaa dia datang lagi, mungkin hikmahnya supaya produk lem tikus ada yang beli, hehehe.

Ada yang punya tips lain ? Boleh sepertinya kita berbagi.


Picture Courtessy of http://www.doyourownpestcontrol.com

Labels:


    Image hosting by Photobucket
    • Indra KH
    • Content Dev, IT Documentation
    • Bandoeng, Jawa Barat, Indonesia
    • My Profile!
    • Chat with Indra KH

RECENT POST

ARCHIVES

BLOGROLL

LINKS

BREAKFAST

Google



blog-indonesia

Indonesian Muslim 

Blogger

karyacipta





dukung persib



Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x